Khotbah Perkawinan


*RENUNGAN PERNIKAHAN I*
NAS : KEJADIAN 2:15-25 

Ketika orang melihat suatu pernikahan begitu indah dan baik, maka banyak mitos muncul waktu itu. Orang mengatakan:
1. “Pernikahan mereka bahagia karena pernikahan mereka tidak pernah dilanda oleh masalah yang besar. Beda dengan kami, memasuki pernikahan terlalu banyak masalah
2. “Pernikahan mereka baik sebab semuanya sudah dipersiapkan, tidak usah pusing memikirkan hari pernikahannya karena semua sudah tersedia, 
Sebuah buku mencatat bahwa satu pernikahan itu menjadi baik atau tidak, ketika ia bisa men-tackle satu persoalan yang paling penting di depan, kalau yang itu beres, maka yang lain akan menjadi lebih mudah. Perlu kita ingat, satu pernikahan yang indah tidak berarti pernikahan itu bebas dari persoalan. Pernikahan Kristen bukan membuat saudara terlindung dari permasalahan. Pernikahan Kristen yang baik adalah bagaimana sikap kita dan pasangan kita ketika menghadapi kesulitan dan permasalahan. 



Pada waktu kita akan menikah, kita akan memikirkan pertanyaan ini, “Apa tujuan kami menikah? Mengapa saya menikah dengan dia? Apa tujuan Allah bagi pernikahan kami?” Pertanyaan-pertanyaan ini sangat penting untuk kita pikirkan. Kalimat ini memang sangat sederhana, tetapi memiliki makna yang begitu dalam, .”..sebab itu manusia akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya sehingga keduanya menjadi satu daging…” Mari kita memperkokoh pernikahan kita dengan melihat tips di bawah ini.
Pertama, kata “meninggalkan". Pernikahan berarti anak itu meninggalkan, bukan diusir orang tua . 
Meninggalkan berarti keterpisahan dari satu posisi yang lama, meninggalkan keadaan yang lama, meninggalkan sesuatu yang tidak boleh lagi menjadi life-style waktu masih single. 
Meninggalkan berarti ada sesuatu yang berubah pada waktu seseorang masuk ke dalam satu pernikahan. Itu awal dari satu pernikahan. 
Meninggalkan bukan berarti membuang atau sama sekali tidak mengurusi orangtua. 


Meninggalkan berarti pernikahan itu mengandung aspek perubahan drastis. Meninggalkan berarti ada hal-hal yang saudara korbankan di dalam hidup ini. Sesudah menikah, orang yang single tidak bisa lagi menjalani hidup sebagai orang yang single. Dulu waktu single, pakaian mungkin tidak dicuci satu minggu, tinggal didaur ulang. Kita mau pulang pagi, tidak peduli. Tidak ada yang peduli kepadamu kalau warna kaus kakimu berbeda. Tidak ada yang peduli kepadamu kalau saudara meninggalkan rumah dengan piring masih belum dicuci. Tidak ada yang peduli kepadamu ketika saudara mau membeli apa saja yang kau inginkan. 
Tetapi meninggalkan berarti dua belah pihak harus beranjak, sama-sama meninggalkan posisi yang lama. Maka meninggalkan itu sama seperti menjadi seorang Kristen, manusia lama kita disalibkan dan kita menjadi manusia baru.

Ada beberapa konsep Alkitab yang penting untuk mengerti apa artinya MENINGGALKAN:
1. Meninggaalkan berarti sekarang hubungan orangtua dengan anaknya yang sudah menikah adalah hubungan antar orang dewasa. Kita berhenti memperlakukan mereka sebagai anak yang belum dewasa. . Kita tidak dipanggil Tuhan untuk selama-lamanya mem’bekap’ anak itu di ketiak kita. (ada 2 orang anak yg berusia 45thn masih dipukul ibunya, dan di jalan ibunya teriak2)
2. Pernikahan berarti sekarang interaksi pikiran, interaksi pendapat, interaksi keputusan hidup yang paling dekat adalah interaksi di antara suami dan istri dan bukan dengan keluarga yang lain. Pernikahan berarti relasi antara suami dan istri menjadi relasi yang paling prioritas, lebih daripada hubungan orangtua dengan anak, antara sahabat dan rekan, dsb.
3. Pernikahan berarti itu saatnya anak menjadi dewasa, dia tidak lagi tergantung kepada orangtua untuk mendapatkan kasih sayang, persetujuan atau dukungan yang paling prioritas.


Kedua, “bersatu”.Bentuk persatuan yang seperti apa? Saya lebih cenderung menggambarkannya seperti persatuan baut dan mur. Ada 3 hal yang menarik di dalam persatuan ini, yaitu: sepadan, satu daging, dan hingga kematian memisahkan mereka. Kata ‘sepadan’ dikaitkan di dalam pengertian Adam adalah satu2nya manusia saat itu, tidak sepadan dengan binatang yang ada di taman Eden. Ketika Allah menciptakan langit dan bumi, Dia melihat semua yang Dia ciptakan itu amat baik. Satu-satunya keluar kalimat dari Tuhan “Tidak baik…” adalah ketika Dia melihat Adam seorang diri. Relasi kita dengan Tuhan merupakan relasi yang indah dan penting, relasi yang paling fundamental di dalam hidup kita. Seluruh relasi yang lain harus didasarkan relasi kita dengan Tuhan.

Kalau Tuhan sendiri mengatakan tidak ada yang sepadan sehingga Tuhan perlu ciptakan Hawa, di tengah intimnya relasi Tuhan dengan Adam, tetap Tuhan melihat ada sisi-sisi yang lain di mana relasi itu hanya bisa diisi di dalam relasi hubungan laki-laki dan perempuan. Sedekat-dekatnya hubungan kakak-adik, sedekat-dekatnya hubungan teman, sedekat-dekatnya hubungan ayah-anak, tidak ada yang sanggup mengisi hal-hal yang kosong di dalam hubungan suami dan istri. Itu sebab Tuhan memberi Hawa bagi Adam supaya dia memiliki relasi yang penuh. Ada bagian sisi relasi kita dengan Tuhan, ada bagian relasi kita dengan teman-teman, kolega, adik atau kakak, tetapi tetap ada satu sisi yang hanya bisa diisi di dalam relasi suami dan istri. Maka pernikahan berarti pria dan wanita itu bersatu bersama. Sepadan, menjadi satu daging, hingga kematian memisahkan mereka. Ini bukan satu persatuan kontrak biasa atau satu persatuan sementara tetapi satu persatuan yang permanen adanya. Tidak gampang, bukan? 

Ketiga, menjadi satu daging; berarti pernikahan merupakan satu komitmen seumur hidup untuk setia, untuk bersama-sama melewati apa yang terjadi di dalam hidup. Dalam suka dan duka, dalam sehat dan sakit, kaya atau miskin, sampai kematian memisahkan kita. Itu janji kita untuk melewati hidup ini bersama-sama apa pun yang terjadi. 

Saudara-saudara, di samping beberapa hal di atas, untuk langgengnya sebuah pernikahan maka dalam pernikahan kristen itu harus ada usaha dari kedua belah pihak (suami-istri) untuk:
Hidup saling mengasihi.
Hidup saling menerima pasangan hidupnya dengan segala kelemahan dan kelebihannya, kegagalan dan keberhasilan, serta dalam sakit dan sehat.
Hidup saling mengampuni/memaafkan.
Hidup saling melayani.
Kata ‘saling’ di sini berarti kita berbuat sesuatu tanpa harus menunggu pasangan hidup kita yang terlebih dahulu berbuat demikian. Karena dengan menunggu berarti kita telah membuat suatu persyaratan; dan kasih kita kepada pasangan hidup kita tidak murni dan tulus. Jadi, Pernikahan yang langgeng itu bukan karena faktor keberuntungan atau kebetulan. 
Apakah saudara ingin hidup bahagia dengan pasangan saudara sampai maut memisahkan kalian? Seberapa seriuskah saudara dan pasangan ingin hidup dalam pernikahan yang menyejahterakan? Jangan jawab sekarang, tetapi wujudkan dan nyatakan! Tuhan akan menolong kitaa yang sungguh-sungguh ingin berhasil dalam hidup pernikahannya dan menjadi saluran berkat Tuhan melalui rumah tangganya.
Ingat : “Untuk mewujudkan keutuhan sebuah keluarga dibutuhkan dua orang. Sedangkan untuk mengancurkannya cukup diperlukan satu orang.”


*RENUNGAN PERNIKAHAN II*
NAS : KOLOSE 3:18-19 

Saudara-saudara, akhir-akhir ini marak dibicarakan di dalam masyarakat tentang kejadian-kejadian yang dilakukan oleh anggota keluarga (rumah tangga) yang satu terhadap anggota keluarga (rumah tangga) yang lain seperti penganiayaan, penyiksaan, pelecehan seksual, merendahkan martabat, baik secara fisik maupun secara psikis. Kejadian demikian bukan merupakan kejadian yang baru melainkan sebenarnya sudah berlangsung lama dan sering terjadi di dalam masyarakat. Hanya saja hal tersebut kurang mendapat perhatian serius baik dari pemerintah maupun masyarakat sendiri. Pada umumnya anggota masyarakat yang menjadi korban baik secara pribadi maupun dengan anggota keluarga (rumah tangga) yang lain enggan maupun takut melaporkan atau memberitahukan kepada pihak yang berwajib atau pihak lain, karena mereka khawatir akan terjadi akibat yang lebih buruk dan terjadi perpecahan/keretakan di dalam keluarga (rumah tangga).

Sampai sejauh ini kejadian demikian masih terasa sulit pemecahannya. Tanpa adanya pengaduan dari korban, pihak lain atau pihak yang berwajib tidak bisa bertindak untuk mencampuri atau mengambil tindakan, karena merupakan ‘delik aduan’, kalau tidak ada pengaduan tentu pihak yang berwajib tidak bisa melakukan tindakan apa-apa.
Tindakan kekerasan di dalam keluarga (rumah tangga) dewasa ini kerap kali menjadi topik utama dan menjadi perhatian publik dalam media informasi baik cetak atau elektronik setelah sering disinggung-singgung dan diperbincangkan oleh para pemerhati kehidupan sosial di dalam masyarakat kita tentang persamaan gender, hak asasi, diskriminasi dan lainnya.
Dalam firman kita hari ini, Tuhan ingin memberikan pedoman hidup bersama menurut cara Allah. Jika kita menaatinya, kita akan menikmati relasi yang rukun, sebaliknya, bila kita melanggarnya, kita akan mencicipi relasi yang penuh konflik. 
Ada beberapa pertanyaan yang muncul tatkala membaca ayat ini yaitu: 


I. Isteri harus tunduk kepada suaminya.
Mengapakah Tuhan secara spesifik menetapkan suami sebagai kepala sehingga istri harus tunduk kepadanya? Apakah artinya "tunduk" di sini? Sejauh manakah kita akan tunduk kepada suami?
Saudara-saudara, Tunduk adalah syarat keanggotaan dalam suatu organisasi atau ikatan. Tanpa ketundukan, mustahil tercipta kerukunan. 
Tunduk adalah pedoman yang Tuhan berikan kepada istri agar dapat melanggengkan hidup bersama, bukan perintah yang Tuhan sampaikan kepada wanita karena seolah-olah ini adalah masalah atau kelemahan wanita. Tanpa kecuali, kita semua sulit untuk tunduk. 
Tunduk tidak berarti tidak berpendapat atau kehilangan keunikan diri; ingat, pernikahan adalah sebuah penyatuan .
II. Seorang suami yang takut akan Tuhan mempunyai kewajiban mengasihi istrinya. Mengasihi istri adalah perintah Allah kepada para suami, yang harus dilakukan untuk mewujudkan keluarga bahagia.
Ada 3 prinsip Alkitabiah seorang suami dalam mengasihi istri, yaitu:
1. Mengasihi adalah mengorbankan diri bagi istri. Kasih yang sejati selalu ditandai dengan pengorbanan dan pengabdian yang tulus. Suami yang mengasihi istrinya selalu berusaha menyenangkan dan membahagiakan istrinya, sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran firman Tuhan. 2. Mengasihi adalah perhatian untuk kesejahteraan rohani istri. Suami haruslah memberi prioritas pertama bagi kebutuhan rohaninya. Usahanya yang pertama adalah mendorong istrinya mempunyai hubungan yang baik dengan Tuhan .
3. Mengasihi adalah memegang kekuasaan dengan kerendahan hati (Yoh. 13:3-4). Kekuasaan dalam rumah tangga harus tetap berada pada suami, karena memang sudah diberi kepadanya, tetapi haruslah dirasakan bukan sebagai haknya, tetapi sebagai kewajibannya. Jangan pernah memikirkan kekuasaan tanpa memikirkan tanggung jawabnya. Para suami harus membuang keangkuhannya, ego. Seperti Tuhan Yesus sendiri telah merendahkan diri kepada para murid-Nya. 

JADILAH SUAMI DAN ISTERI YANG SALING PEDULI, MENGERTI, MEMAHAMI DAN MENGASIHI. 

*RENUNGAN PERNIKAHAN III*
NAS : 1 KORINTUS 11:11-12 

Saudara-saudara, sebelum menikah biasanya mempelai mengikuti katekisasi nikah dan diajukan pertanyaan seperti ini; Kenapa kalian ingin menikah? Berdasarkan pertanyaan tersebut, tentunya jawaban atas pertanyaan ini bisa amat beragam. Akan tetapi tidak semua jawaban-jawaban itu tepat dan lengkap. Jawaban-jawaban itu menyiratkan egoisme dan egosentrisme,sebab hanya berfokus pada kepentingan diri sendiri, harapan dan keinginan pribadi serta apa yang ingin kita dapatkan. Padahal, dalam sebuah pernikahan tidak selalu berisi apa yang bisa kita dapatkan dari pasangan kita. PERNIKAHAN YANG HANYA BERFOKUS PADA APA YANG INGIN KITA DAPATKAN, AKAN MENJADI SEBUAH PERNIKAHAN YANG PENUH TUNTUTAN – TIDAK SEIMBANG -TIDAK FAIR – HANYA AKAN MELAHIRKAN SEBUAH PERNIKAHAN YANG RAPUH DAN KEROPOS.


Dalam nas I Korintus 11: 11 – 12 kita dapat melihat beberapa pokok penting yang perlu kita pahami dalam kaitannya dengan hidup pernikahan dan membangun sebuah keluarga. Sebab Pernikahan adalah relasi dua arah dan seimbang. Kedudukan suami tidak lebih tinggi daripada istri. Begitu juga kedudukan istri tidak lebih tinggi daripada suami. Yang satu tidak lengkap tanpa yang lain. 
Dari bacaan kita setidaknya ada empat (4) hal yang dapat kita lihat dan kembangkan sebagai kunci keberhasilan dalam membangun sebuah pernikahan.

1. Pernikahan harus dilihat sebagai sebuah komitmen pada sebuah hubungan yang permanen. 
Yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya adalah komitmen. Hidup pernikahan dibangun di atas serangkaian komitmen antara suami dan istri. Komitmen untuk saling mengasihi, saling menghargai, saling mengingatkan, saling mendoakan dan komitmen untuk menjalani kehidupan pernikahan sampai maut memisahkan. Oleh sebab itu, Yesus pernah berkata, “Apa yang telah dipersatukan oleh Allah jangan dipisahkan oleh manusia.” Komitmen untuk mengasihi dan mencintai harus menjadi dasar hidup pernikahan. Komitmen menjadikan rumah tangga kita semakin hari semakin kokoh dan semakin terasa menyenangkan.


2. Pernikahan harus dilihat sebagai sebuah panggilan untuk melayani dengan penuh kesetiaan.
Pernikahan adalah sebuah panggilan bagi masing-masing, suami dan istri, untuk melakukan yang terbaik bagi pasangannya. Alangkah indahnya sebuah rumah tangga yang di dalamnya satu sama lainnya terdorong untuk saling melayani dan saling memberi. 

3. Pernikahan harus dilihat sebagai sebuah proses pemurnian.
Pernikahn adalah sebuah perpaduan dua pribadi, di mana masing-masing pribadi, suami dan istri, dengan kesadaran penuh memberikan sebagian ruang dalam hidupnya bagi kita. Bukan kepentinganmu atau kepentinganku, yang ada adalah kepentingan kita bersama.

4. Pernikahan harus dilihat sebagai sebuah anugerah.
Tidak ada orang yang tidak senang menerima hadiah. Hadiah akan selalu disambut dengan sukacita dan rasa syukur sesederhana apa pun bentuknya.

Dengan memandang pernikahan sebagai sebuah hadiah, kita akan menjalaninya dengan penuh sukacita dan penuh rasa syukur, bukan sebagai beban apalagi sebagai penjara.
SELAMAT MENEMPUH HIDUP BARU.

3 comments:

  1. pernikahan akan terasa indah jika kita menjalankan dengan ikhlas
    by
    cincin kawin

    ReplyDelete
  2. Penyampaian Firman yg sangat memberkati sekali. Terima kasih.
    Tuhan Yesus Memberkati anda.

    ReplyDelete
  3. doakan sya pak..
    sebentar lgi sy menikah.
    khotbaAh nya memberkati sya

    ReplyDelete